Posts from the ‘Rahmani Astuti’ Category

Lust for Life

Judul: Lust for Life

Penulis: Irving Stone

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penyunting: Anton Kurnia

Penerbit: Serambi

Bahasa asli: Inggris

Terbit: Agustus 2012

Inilah sebuah novel memukau tentang suka duka kehidupan Vincent Van Gogh, pelukis cemerlang yang kini karya-karyanya menjadi lukisan termahal di dunia, tapi semasa hidupnya senantiasa didera nasib malang, kemiskinan, dan kegagalan cinta.
Berasal dari keluarga terpandang, Vincent muda yang memberontak terhadap aturan di sekelilingnya sempat berganti-ganti pekerjaan hingga ia menemukan jati dirinya dan memulai karier sebagai pelukis pada usia 27 tahun. Malangnya, hingga bertahun-tahun kemudian, kesuksesan tak juga berhasil diraihnya walaupun ia bekerja keras setiap hari untuk mematangkan teknik melukisnya. Semasa hidupnya, hanya satu  lukisannya yang terjual sehingga dia terpaksa hidup miskin bergantung pada sokongan adik tercintanya yang selalu setia menyemangatinya.
Novel ini mengungkap perjuangan hidup Vincent sejak ia masih seorang pemuda tanggung hingga ia tewas bunuh diri sebelum menyaksikan karya-karyanya dihargai orang, menjadi abadi, dan memecahkan rekor lukisan termahal di dunia—menembus harga lebih dari satu triliun rupiah!
Kisah hidup Vincent Van Gogh, walaupun berakhir tragis, adalah sebuah cermin betapa kerja keras dan pengorbanan pada akhirnya akan membuahkan keberhasilan dan betapa kekuatan cinta adalah hal paling luar biasa dalam hidup manusia.

Little Women

Penulis: Louisa May Alcott

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi

Dalam novel ini, Louisa May Alcott menciptakan empat sosok perempuan yang paling dicintai dalam sastra Amerika. Mereka adalah Meg yang cantik dan tertib, Jo yang penuh semangat dan susah diatur, Beth yang pendiam dan baik hati, serta si bungsu Amy yang berdarah seni dan kekanak-kanakan. Keempat dara ini tinggal bersama ibu mereka, sementara sang bapak bertempur dalam perang saudara.

Sebagai saudari, mereka saling mencintai, saling membenci dan bertengkar satu sama lain. Mereka juga saling memuji dan mengejek. Namun, mereka tetap saling melindungi karena menyadari kehadiran saudari mereka lebih berharga dibandingkan dengan apa pun. Sementara itu, kehadiran Laurie, cucu laki-laki tetangga mereka, memberikan warna tersendiri dalam kehidupan empat gadis ini.

Dibumbui cerita cinta pertama yang dialami Meg, kesedihan ketika Beth terserang penyakit mematikan, dan kerinduan pada sosok bapak, novel ini menyajikan ombang-ambing kehidupan yang dialami keluarga March. Isu feminisme juga diangkat melalui sosok Jo yang selalu menentang aturan yang membatasi kebebasan perempuan.

Novel yang berlatar New England abad ke-19 ini menjadi buku laris selama puluhan tahun. Selain itu, sejak terbit pertama kali pada 1868 hingga sekarang, buku ini tetap dibaca dan dikagumi banyak orang dari generasi ke generasi. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Little Women telah 14 kali diadaptasi ke dalam film. Novel ini juga dipentaskan dalam panggung opera dan bahkan beberapa kali dibuatkan versi anime-nya.

Live Through This: Kekuatan Cinta Seorang Ibu

Penulis: Debra Gwartney

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Mahda Books

Sejak bercerai dari suaminya, dua anaknya yang pertama, Amanda dan Stephani, selalu membuat masalah, mulai dari menyulut kebakaran di sekolah sampai akhirnya keduanya melarikan diri dan hidup di jalanan. Mereka menjalani kehidupan jalanan yang bebas dengan segala keburukannya. Sang ibu harus berjuang dengan segala keterbatasannya sebagai orangtua tunggal dan pencari nafkah, untuk melindungi dan membawa anaknya kembali pulang.

Live Through This merupakan lukisan tentang usaha habis-habisan Gwartney untuk menemukan kembali puteri-puterinya yang begitu dicintainya.

Whoever You Are, I Love U, Mom

Penulis: Iris Krasnow

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi

Setiap anak perempuan pasti mendambakan ibu penyayang dan penuh pengertian. Namun, tak semua ibu seperti itu. Banyak putri justru harus menghadapi ibu yang dingin, kaku, atau kejam. Banyak pula wanita dewasa, seperti dikisahkan oleh buku ini, yang harus berjuang antara memendam kekecewaan dan menceraikan sang ibu dari kehidupan mereka.

Bermula dari kisah Iris Krasnow sendiri dengan ibunya, buku ini menuturkan kearifan seratus lebih anak perempuan usia setengah baya. Mereka semua curhat soal ibu. Latar belakang mereka beragam, mulai dari model terkenal hingga anak pelayan. Menurut mereka, ibu adalah sosok yang paling mampu melukai batin anak perempuannya. Dan, obat mujarabnya hanya ada di tangan dia. Jadi, para putrilah yang harus maju duluan dan memintanya, demi kepentingan sendiri.

Berbaikan dengan ibu sama artinya memperbaiki kehidupan kita sendiri. Menya-lahkan tindakan-tindakan ibu di masa lalu hanya akan menimbulkan kebencian yang membebani jiwa. Sementara, mengenyahkan luka-luka masa lalu membuat Anda bisa menikmati masa-masa penuh persahabatan dan dukungan bersama ibu Anda.

Krasnow mengajak Anda menyadari bahwa seperti rocker, ibu juga manusia. Anda tak mungkin menceraikan ibu dari kehidupan Anda. Dan, menanti kelegaan tatkala ibu Anda dikebumikan tentu bukan sikap arif. Jadi, ganjalan hubungan dengan ibu mesti Anda singkirkan. Kuncinya adalah belajar melepas gambaran ibu idaman dan mereng-kuh ibu sejati Anda—yang mungkin tak menyukai rambut Anda, mengkritik suami Anda,
mengeluh tentang anak-anak Anda, atau lebih buruk lagi.