Posts from the ‘Ingrid Nimpoeno’ Category

The Woman in The Window

Pengarang: A.J. Finn
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
Penerbit: Noura Books

Tebal: 573 halaman

the-woman-in-the-window

Anna Fox berdiri di depan jendela. Siap melakukan kegiatan rutinnya: memata-matai para tetangga lewat lensa kamera. Ya, dia hafal kegiatan mereka semua. Ya, dia menyaksikan perselingkuhan. Namun, tidak pernah sebuah pembunuhan.

Hari itu, pemandangannya berbeda. Pisau di dada Jane—tetangga barunya, darah di kaca, jemari yang menggapai meminta pertolongan. Anna bergegas ke luar rumah untuk menyelamatkan wanita itu. Namun, agorafobia parah yang diidapnya membuatnya pingsan saat melangkah ke tempat terbuka. Saat sadar, ada Jane Russel lain di hadapannya, seorang wanita yang tidak dia kenal, Jane Russel sesungguhnya. Tidak ada yang mati, dia mungkin berhalusinasi.

Anna pun mencurigai ingatannya sendiri. Terlalu banyak minum, mereka bilang. Mungkin dia hanya berusaha mencari perhatian karena kesepian. Benarkah?

Tentang A.J. Finn

A.J. Finn

A.J. FINN telah menulis untuk berbagai penerbit, termasuk Los Angeles TimesThe Washington Post, dan The Times Literary Supplement (UK). Novel pertama Finn, The Woman in the Window, telah terjual di tiga puluh lima wilayah di seluruh dunia dan sedang dikembangkan menjadi film bioskop oleh Fox. Berasal dari New York, Finn tinggal di Inggris selama sepuluh tahun sebelum kembali ke New York City.

Keunggulan Buku

“Unputdownable”

—Stephen King

Iklan

go where your heart takes you

Pengarang: Susanna Tamaro
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
Penerbit: Noura Books

Tebal: 256 halaman

susannatamaro

susannatamaro2

Origin

Pengarang: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid D. Nimpoeno, Reinitha A. Lasmana, Dyah Agustine
Penyunting: Esti Ayu Budihabsari
Penerbit: Bentang

Tebal: 516 halaman

origin

Siapapun dirimu
Apa pun keyakinanmu
Semuanya akan berubah.
Bilbao, Spanyol
Robert Langdon, profesor simbologi dan ikonologi agama Universitas Harvard, tiba di Museum Guggenheim yang supermodern untuk menghadiri pengumuman besar tentang penemuan yang “akan mengubah dunia sains.” Tuan rumah acara malam hari itu adalah Edmond Kirsch, seorang miliuner dan Futuris berusia empat puluh tahun. Kirsch adalah sosok yang terkenal di seluruh dunia, berkat penemuan-penemuan teknologi tingkat tingginya yang mengagumkan, serta prediksi-prediksinya yang berani. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa Langdon dua puluh tahun yang lalu, dan sekarang dia akan mengungkap suatu terobosan yang mencengangkan… yang akan menjawab dua pertanyaan fundamental terkait eksistensi manusia.
Begitu acara dimulai, Langdon dan beberapa ratus hadirin lainnya terpukau oleh pemaparan yang begitu orisinil, dan Langdon menyadari bahwa ini akan jauh lebih kontroversial daripada dugaannya. Namun acara yang telah diatur dengan amat cermat itu tiba-tiba kacau balau, dan penemuan berharga Kirsch nyaris hilang selamanya. Terguncang dan menghadapi bahaya besar, Langdon terpaksa melarikan diri dari Bilbao. Dia didampingi oleh Ambra Vidal, sang direktur museum yang bekerja sama dengan Kirsch untuk menyelenggarakan acara. Keduanya bertolak ke Barcelona untuk mencari password teka-teki yang akan mengungkap rahasia Kirsch.
Menyusuri koridor-koridor gelap sejarah rahasia dan agama ekstrem, Langdon dan Vidal harus menghindari lawan yang sepertinya tahu segalanya, yang kemungkinan didukung oleh pihak Istana Kerajaan Spanyol … yang tidak akan melakukan apa pun untuk membungkam Edmond Kirsch. Mengikuti jejak-jejak tersembunyi dalam karya seni modern dan beragam simbol misterius, Langdon dan Vidal menemukan petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membawa mereka berhadapan dengan penemuan Kirsch… dan kenyataan mencengangkan yang selama ini tidak kita ketahui.

Tentang Dan Brown

Dan Brown adalah penulis The Da Vinci Code, salah satu novel yang paling banyak dibaca sepanjang waktu, dan juga bestseller internasional The Lost Symbol, Angels & Demons, Deception Point, dan Digital Fortress. Dia tinggal di New England bersama istrinya.

Into the Water

Pengarang: Paula Hawkins
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
Penerbit: Noura Books

Tebal: 480 halaman

intothewater

Sungai itu indah. Penampilan yang menipu, karena sebenarnya, itu adalah tempat paling mematikan di seluruh penjuru kota. Airnya yang gelap dan dingin menyembunyikan apa yang ada di bawahnya …
Salah satu sudutnya, dikelilingi tebing batu tinggi yang menggodamu melongok ke tepi, selama berabad-abad telah merenggut banyak nyawa. Semuanya perempuan. Kebanyakan tidak bernama, tidak berwajah. Sungai itu memikat mereka yang tidak beruntung, yang putus asa, yang tidak bahagia, yang tersesat, agar datang ke sana. Mereka menyebutnya Kolam Penenggelaman.

Kini sungai itu kembali menelan korban: Nel Abbot, wanita yang bertekad untuk menyingkap rahasia sungai itu dan menuliskan kisah-kisahnya. Kali ini, semua ornag mendapat kesempatan untuk mencari tahu penyebabnya, alasannya: kenapa dan bagaimana?

Apakah dia jatuh? Apakah dia bunuh diri? Apakah dia … dibunuh?
TENTANG PENULIS:
Paula Hawkins bekerja sebagai jurnalis selama lima belas tahun, sebelum beralih menulis fiksi. Lahir dan dibesarkan di Zimbabwe, Paula pindah ke London pada 1989 dan tinggal di sana sejak itu. Novel thriller pertamanya, The Girl on the Train, telah menjadi fenomena global, terjual sebanyak hampir 20 juta buku di seluruh dunia. Diterbitkan dalam lebih dari empat puluh bahasa, novel ini meraih penjualan terbanyak di seluruh dunia dan menjadi film terlaris dengan pemeran utama Emily Blunt.
Into the Water adalah novel thriller keduanya.

Train to Krakow

Pengarang: Qaisra Shahraz
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno, Nuraini Mastura, Yuniasari Shinta Dewi
Penyunting: Yuli Pritania
Penerbit: Noura Books

Tebal: 320 halaman

traintokrakow

Di dalam kereta khusus ini, makanan dan air minum telah habis setelah satu hari perjalanan. Mereka hanya bisa membawa perbekalan secukupnya. Mereka pun tidak diberi tahu detail tentang berapa lama perjalanan untuk sampai ke tujuan.
Suara debum keras gerbong kereta terdengar, semua orang menjadi waspada; pintu-pintu ditarik membuka diiringi suara berisik. Mata-mata yang letih mengerjap-ngerjap terkena sinar cahaya yang merembes masuk.
Para penumpang melangkah turun ke peron, berjalan terhuyung membawa barang-barang, dan menganga bingung melihat lingkungan sekitar mereka. Inikah Kota Krakow?
Melalui 10 cerpen terbaiknya, Qaisra Shahraz membawa kita berjalan-jalan dari Afghanistan hingga Polandia; dari Zaman Perbudakan, Perang Dunia, hingga zaman modern; dari kepercayaan leluhur hingga pemahaman fleksibel masa kini; koleksi ini akan menyentil rasa empati dan wajib dimiliki!
TENTANG PENULIS
Qaisra Shahraz lahir di Pakistan pada 1958 dan tumbuh besar di Inggris. Dia tinggal di Manchester sejak usia 9 tahun dan mendapat dua gelar magister untuk jurusan Sastra Inggris & Eropa dan penulisan skenario televisi. Shahraz bekerja sebagai penasihat untuk University of Lancaster, sekaligus menjadi pengawas kampus dan jurnalis.
Qaisra termasuk dalam daftar 100 Wanita Pakistan Paling Berpengaruh pada 2012. Dia adalah direktur Asia Pacific Writers and Translators. Novelnya, The Holy Woman, memenangkan Golden Jubilee Award dan laku keras di Indonesia dan Turki. Buku-buku Qaisra yang sudah terbit adalah The Holy Woman (2002), Typhoon (2007), Revolt (2013), A Pair of Jeans and Other Stories (2013), dan The Concubine and the Slave Catcher: And Other Stories (2017).
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Qaisra, bisa mengunjungi situs web resminya, qaisrashahraz.com dan Twitter @QaisraShahraz.[]
KEUNGGULAN BUKU
  • Menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah Inggris
  • Penulis buku bestseller Holy Woman, Perempuan Suci terbitan Mizan.
  • The Holy Woman, Perempuan Suci memenangkan Golden Jubilee Award dan laku keras di Indonesia dan Turki.
  • Penulis masuk dalam daftar 100 Wanita Pakistan Paling Berpengaruh pada 2012.
ENDORSMENT
“Perjalanan melintasi jarak dan waktu. Percampuran antara kesedihan, kerinduan, dan nostalgia yang patut dikenang.”
Eka Kurniawan, pengarang Lelaki Harimau, pemenang 2016 Financial Times Emerging Voices Award, dan nomine 2016 Man Booker International Prize

All the Missing Girls

Pengarang: Megan Miranda
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
Penerbit: Noura Books

Tebal: 490 halaman

missinggirls
Pasar malam. Bianglala. Hutan. Gua tersembunyi. Seorang gadis menghilang tanpa jejak. Cooley Ridge, kota kecil di North Carolina, berubah mencekam dalam satu malam. Tidak ada yang melihat apa-apa, orang-orang menyimpan rahasia.
Sepuluh tahun kemudian, gadis lain menghilang. Trailer yang kosong, hutan misterius di belakang rumah, kegelapan yang tersembunyi di balik rimbun pepohonan. Lalu, rahasia-rahasia kelam mulai terkuak. Sesuatu yang terkubur di masa lalu, kini perlahan-lahan muncul ke permukaan.
Semua berdosa. Semua berdusta. Mereka menutup mata dan menolak bersuara. Pertanyaannya, siapa yang berani maju mengungkapkan kisah sebenarnya? Atau, akankah kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang? Satu gadis lain lenyap; tanpa jejak, tanpa mayat?
A NEW YORK TIMES BOOK REVIEW “EDITORS’ CHOICE”
ENTERTAINMENT WEEKLY—THRILLER ROUND-UP
THE WALL STREET JOURNAL—5 KILLER BOOKS FOR 2016
HOLLYWOOD REPORTER—HOT SUMMER BOOKS … 16 MUST READS
TENTANG PENULIS:
Megan Miranda adalah penulis beberapa buku untuk remaja, termasuk FractureHysteriaVengeance, dan Soulprint. Dia tumbuh besar di New Jersey, kuliah di Massachusetts Institute of Technology, dan tinggal di North Carolina bersama suami dan dua anaknya. All the Missing Girls adalah novel dewasa pertamanya. Ikuti @MeganLMiranda di Twitter, atau kunjungi http://www.meganmiranda.com.[]
KEUNGGULAN BUKU:
  • Ceritanya unik, page turner, membuat penasaran
  • Alurnya menggunakan alur mundur sehingga misteri terungkap satu per satu
  • Alur lumayan cepat sehingga tidak membosankan
  • Berpotensi untuk difilmkan
  • Review bintang 4.0 dari 562 pembaca amazon.com
  • Review positif dari media-media Amerika.

Death in Babylon Love in Istanbul

Pengarang: Iskender Pala
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Essa Putra
Penerbit: Bentang

Tebal: 525 halaman

Fuzuli, seorang sastrawan kenamaan asal Baghdad pada masa Ottoman, diminta oleh Sultan Sulaiman untuk menuliskan kembali kisah Layla dan Majnun—salah satu kisah cinta terhebat sepanjang masa, yang telah menginspirasi kisah-kisah cinta seperti Romeo dan Juliet. Akan tetapi, rupanya cerita Layla dan Majnun tak hanya tentang cinta antar sepasang manusia saja. Fuzuli menemukan bahwa di dalamnya pun terdapat sebuah misteri berusia ribuan tahun.
Konon, ada tujuh rahasia sejati bagi seseorang yang mengenal cinta. Rahasia tentang umat manusia serta arti cinta sejati. Orang yang memiliki ketujuh rahasia tersebut akan menguasai dunia. Dan, pintu yang menuju ke jawaban dari tujuh rahasia tersebut terdapat di reruntuhan Babylon, Baghdad, Istanbul, Roma, dan Paris.
Maka dimulailah pencarian panjang Fuzuli untuk mengungkap rahasia dan membuktikan misteri tersebut.
Tentang Penulis :
Iskender Pala adalah seorang dosen di Universitas Istanbul dan penulis best seller asal Turki. Dijuluki “Penyair Rakyat”, Pala merupakan salah satu sastrawan yang paling dihormati di Turki. Dia pun telah meraih banyak penghargaan antara lain Writers Union of Turkey Award 1989 dan 1996 serta Presidential Culture and Arts Grand Award 2013. Death in Babylon, Love in Istanbul adalah karya terlarisnya yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.