Posts from the ‘Adhi Muhammad Ramdhan’ Category

Fikih Minoritas, Upaya Menikam Islam

Judul Asli: The Fiqh of Minorites – the New Fiqh to Subvert Islam

Nama Penulis:
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Asif K Khan

Nama Penerjemah: M. Ramdhan Adhi

Nama Penyunting: A. Syaifullah

Nama Penerbit: Pustaka Thariqul Izzah

Bahasa Buku Asli: Inggris

Tahun Terbit: 2004

Wabah kaji ulang terhadap hukum-hukum Islam dewasa ini bisa dikatakan semakin menjadi-jadi. Hal ini terjadi seiring derasnya arus moderenisasi yang didengungkan oleh negera-negara Eropa dan Barat kepada dunia ke tiga atau negara-negara berkembang.

Pemikiran moderenisasi yang dipropagandakan tersebut setidaknya memuat dua hal yang selama ini sudah jamak diketahui orang, yakni: pertama, semakin tingginya kemajuan teknologi yang berkembang. Kedua, semakin meluasnya life style barat yang masuk ke dalam negara-negara berkembang yang notabenenya memiliki life style yang berbeda.

 

Apabila yang dimaksud dengan moderenisasi adalah semakin tingginya teknologi yang dimiliki oleh manusia, dalam hal ini Islam sebagai ideologi tidak mempunyai masalah dengannya. Namun, apabila yang dimaksud adalah berupa berubahnya life style seseorang, maka Islam tidak membolehkannya. Karena, dalam Islam seorang Muslim haruslah menjadikan life style-nya berdasarkan kepada aqidah Islam dan hukum syara sebagai tolak ukurnya perbuatannya sekaligus sebagai sumber hukumnya.

 

Salah satu life style dalam bidang pemikiran yang ditularkan oleh Eropa dan Barat adalah pemahaman-pemahaman yang mengatakan bahwa hukum atau syariah Islam sudah tidak lagi sesuai dengan semangat zaman saat ini. Sehingga diperlukan reinterpretasi terhadap hukum-hukum Islam agar dapat sejalan dengan perkembangan masyarakat yang katanya semakin majemuk baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.

 

Lebih lanjut, kaum muslimin yang tinggal di negeri-negeri Eropa dan Barat juga tidak luput dari target pembaratan life style mereka. Untuk tujuan itu, lahirlah sejumlah pemikiran yang menganjurkan (ajakan) agar kaum muslimin yang ada disana untuk berintegrasi dengan penduduk setempat (pribumi) tanpa mengindahkan lagi apakah perbuatan tersebut diperbolehkan oleh syariat Islam atau tidak.

Inilah latar belakang ditulisnya buku yang berjudul ”The Fiqh of Minorites; The New Fiqh to Subvert Islam” oleh Asif K. Khan. Penulis memberikan contoh salah satu bentuk anjuran integrasi (baca, mengasimilasi atau menyesuaikan) antara kaum muslimin yang ada di Eropda dan Barat adalah agar kaum muslimin bergabung dengan pemilihan anggota parlemen yang berlangsung.

 

Dalam prosesnya, ternyata banyak kaum muslimin yang telah bergabung dalam proses integrasi tersebut. Namun, ada juga yang berupaya untuk memecahkan masalah kaum muslim di Barat dengan berupaya mendasarkan metodenya di atas asumsi-asumsi yang tidak sesuai dengan realitas, atau tidak sesuai dengan karakter Islam, akibatnya, mereka menjadi pragmatis dalam melakukan pendekatan untuk memecahkan masalah yang terjadi disana.

 

Asif K. Khan menulis, bahwa salah satu faktor penyebab mengapa umat Islam mudah sekali dipermainkan oleh mereka (baca, Barat dan Eropa) adalah dikarenakan sudah tidak ada lagi institusi (negara Khilafah) dalam melindungi kaum muslimin. Faktor lain mengapa umat Islam mudah dikuasai adalah dikarenakan lemahnya kaum muslimin terhadap pemahaman agama Islam itu sendiri.

The Fiqh of Minorites – the New Fiqh to Subvert Islam
Iklan

Kisah Pilihan Dari Kehidupan Rasulullah saw

Judul Asli: Selection from the Seerah of Muhammad

Nama Penulis: Iyad Hilal M.A.

Nama Penerjemah: M. Ramdhan Adhi

Nama Penyunting: A. Syaifullah

Nama Penerbit: Pustaka Thariqul Izzah

Bahasa Buku Asli: Inggris

Tahun Terbit: 2004

Nabi saw. bukan sekedar manusia biasa. Beliau saw. adalah manusia yang memperoleh wahyu dari Allah Swt. Beliau saw. adalah seorang manusia sekaligus seorang Rasul. Dalam kehidupannya, Beliau saw. adalah seorang suami, ayah, dan kakek. Pada saat yang sama Beliau saw. juga adalah seorang hakim (qadli), penguasa, panglima militer, dan negarawan. Karena Beliau saw. adalah uswah hasanah bagi kita, maka Beliau saw. harus ditaati dalam seluruh aspek tersebut. Untuk memahami kepribadian beliau saw. kita harus memahami seluruh peran yang dijalaninya. Kehidupan Nabi saw. menjadi sumber hokum bagi setiap dan seluruh umat manusia dala seluruh aspek kehidupan mereka. Dari warga negara biasa hingga kepala negara. Dari seorang ayah hingga suami. Dan dari tetangga hingga hakim (qadli). Sejauh ini tulisan-tulisan mengnenai beliau saw. hanya berbicara tentang satu aspek kehidupan Nabi saw., yaitu aspek keluarga atau akhlak. Dengan demikian-entah sengaja atau tidak hal itu dilakukan,banyak sekali aspek kehidupan Beliau yang akhirnya terabaikan atau tidak dianggap penting. Melihat hal tersebut, dalam buku ini kami mencoba mengetengahkan aspek-aspek lain dari kepribadian sosok manusia yang agung itu, yang selama ini belum terekspos. Ini dilakukan semata-mata agar kita memahami cara terbaik untuk benar-benar menaati Beliau saw. seutuhnya.

Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah

Judul Asli: The Method To Re-Establish The Khilafah

Nama Penulis: Syabab Hizbut Tahrir

Nama Penerjemah: M. Ramdhan Adhi

Nama Penyunting: A. Syaifullah

Nama Penerbit: Pustaka Thariqul Izzah

Bahasa Buku Asli: Inggris

Tahun Terbit: 2004

Tidak pernah terbayangkan di dalam benak kaum Muslim, sejak generasi sahabat -ridlwanullahi’alaihim- hingga dua generasi yang lalu, bahwa negara Khilafah Islam yang selama lebih dari 13 abad menjadi pilar utama penegakan sistem hukum Islam, akan runtuh. Di atas reruntuhannya itulah dibangun negara sekular Turki. Kini, tegaknya kembali negara Khilafah merupakan perkara utama kaum Muslim dan menjadi sebuah tuntutan yang berkumandang di negeri-negeri Islam. Mereka menyadari bahwa hanya negara Khilafah yang mampu menegakkan hukum-hukum Islam di muka bumi, menyingkirkan sistem kufur dan menghancurkan kezaliman yang dilakukan oleh negara-negara imperialis kafir atas kehidupan umat manusia, serta menghantarkan umat manusia menuju cahaya Islam.

Buku ini ditulis dan dterbitkan oleh anggota Hizbut Tahrir-Inggris dan ditujukan untuk kaum muslim. Buku ini memaparkan bagaimana metoda yang benar, praktis, dan rinci telah dicontohkan oleh Rasulullah saw tatkala berhasil membangun Daulah Islamiyah di Madinah. Jika Anda bercita-cita menegakkan kembali negara Khilafah, dan memiliki kerinduan untuk hidup kembali di bawah sistem hukum Islam, maka buku ini menuntun Anda untuk menapaki jalan tersebut.

Senjata Pemusnah Massal dan Kebijakan Luar Negeri Kolonialis

Judul Asli: The West’s Weapon of Mass Destruction and Colonialist Foreign

Nama Penulis: Hizbut Tahrir Inggris

Nama Penerjemah: M. Ramdhan Adhi

Nama Penyunting: A. Syaifullah

Nama Penerbit: Pustaka Thariqul Izzah

Bahasa Buku Asli: Inggris

Tahun Terbit: 2003

Tampaknya predikat yang disandang AS sebagai negara kolonialis sekaligus pembohong besar sangatlah tepat. Propaganda-propaganda yang selama ini ia dengungkan sebagai pembenar agresi terhadap Irak terbukti hanyalah lips-service belaka, guna menutupi kebusukan motif kapitalisnya.

Dengan politik luar negeri ala preman ini, AS tidak hanya semakin mengokohkan diri sebagai negara penjajah dan perampas kemandirian negara lain. Namun, juga semakin menambah daftar hitam perjalanan politik luar negerinya, sebut saja kasus invasi AS ke Haiti di pulau Navassa (1891), Hawai (1893), Nikaragua (1894), Samoa (1899), Kuba (1917), Turki (1922), Iran (1953) hingga Afghanistan (2001), Irak (2003), dan mungkin Suriah.

Salah satu propaganda untuk melegalkan invasi AS ke Irak adalah dengan menyatakan bahwa Irak memproduksi dan menyimpan senjata pemusnah massal. Propaganda AS ini didukung pula oleh pemerintah Inggris dengan menerbitkan sebuah dokumen berjudul Senjata Pemusnah Massal 24 September 2002. Meskipun demikian, dokumen ini tidak dapat menyuguhkan fakta otentik. Bahkan hal inilah yang membuat Tony Blair secara skeptis berujar, “Kami tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi selama 4 tahun belakangan ini.” Pengakuan tersebut ternyata tidak membatalkan pemerintah Inggris menerbitkan dossier of evidence (dokumen penuh bukti) ini. Hal itu mengindikasikan bahwa proses penerbitan dokumen ini tidak lebih dari upaya menggalang opini publik guna melegitimasi aksi militer atas Irak.

Kemunculan dokumen ini terang saja membulatkan kesimpulan kalangan Muslim, yaitu bahwa agresi AS atas Irak hakikatnya hanyalah kampanye untuk memperkokoh dan memperkuat hegemoni serta pengaruh barat atas negeri-negeri Islam, termasuk minyak sebagai upaya represif terhadap setiap bentuk kebangkitan Islam ideologi.

Buku ini secara jeli dan akurat memuat analisis atas motif tersembunyi di balik serangan AS ke Irak, dengan mengkaji kepentingan strategis, ekonomi, dan politik barat. Juga sebelumnya dipertegas dengan menyimak historis dunia kontemporer di bawah hegemoni ideologi kapitalisme, dengan memaparkan bagaimana barat menggunakan senjata pemusnah masal (hlm. 1-21), dukungan Barat terhadap sejumlah rezim diktator yang memiliki reputasi buruk di sejumlah negara di seluruh penjuru dunia (hlm. 42), sikap arogan barat yang sama sekali tidak mengindahkan eksistensi PBB dan hukum internasional (hlm. 22).

Buku ini juga memaparkan sejumlah klaim dan sejarah memalukan bagi pemerintahan barat, ideologi kapitalisme, dan pandangan kolonialisnya. Yang cukup menarik dalam buku ini adalah dimuatnya sejumlah file intelijen secara rinci tentang hal ihwal kebijakan luar negeri barat serta dilengkapi analisis dan tafsiran atas file tersebut. Salah satu data intelijen yang dapat dikutip di sini menyatakan, “Selama beberapa dekade, AS berupaya memainkan peranan yang lebih permanen dalam keamanan kawasan Teluk. konflik berkepanjangan dengan Irak membutuhkan pembenaran, kebutuhan akan hadirnya pasukan AS di Teluk melebihi isu rezim Saddam Hussein.” (Rebuilding America’s Defences, Strategies, Forces, and Resources for a New Country).

Eksistensi akan “tatanan dunia” atau hukum internasional yang mengontrol hubungan antarnegara di dunia, telah digunakan AS untuk mengendalikan negara-negara lain di dunia. Hal itu tentu saja mengancam stabilitas internasional dan kedaulatan negara-negara lemah. Hasilnya, peperangan mudah terjadi hanya dipicu oleh persoalan ekonomi. Terlebih lagi, tatanan dunia seperti ini telah memberi kesempatan bagi negara-negara kuat mencampuri “persoalan dalam negeri” negara-negara lemah, tanpa lagi mempertimbangkan etika apresiasi terhadap kedaulatan. Akibatnya, kolonialisme semakin kokoh, arogansi, tirani, dan hegemoni semakin telanjang dipraktikkan oleh negara kuat. Semuanya dilakukan dengan mengatasnamakan hukum internasional dan tatanan dunia. Jurang antara negara kaya dan miskin, utara dan selatan, dunia kesatu dan dunia ketiga, menjadi semakin lebar dan dalam.

Walhasil, publik di dunia, Muslim maupun non-Muslim kini menyaksikan sendiri bahwa AS (serta Inggris) bukanlah berperan sebagai polisi dunia yang akan menjaga kebebasan dan kedamaian (freedom and peace), melainkan sebagai sosok antagonis, yaitu penjaga keserakahan dan kepentingan sendiri dengan dukungan kekuatan militer dan ekonomi. AS semakin kaya di atas penderitaan dan darah bangsa-bangsa lain.

Oleh karena itu, ancaman dari negara-negara kolonialis barat ini sangat serius dan nyata. Upaya mereka mengejar ambisi material di seluruh dunia harus dihentikan.