Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel

Pengarang: Manal Tamimi, Paul Heron, Paul Morris, Peter Lahti
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Dyah Agustine
Penerbit: Mizan Pustaka

Tebal: 248 halaman

ahed-tamimi

Ahed Tamimi menjadi perhatian dunia ketika dia ditangkap tentara Israel menjelang Natal 2017. Mereka menerobos masuk rumah Ahed di tengah malam buta, dan menyeret pergi gadis berusia 16 tahun ini. Gara-garanya? Ahed menampar tentara Israel yang masuk ke rumahnya. Ahed kesal karena tentara Israel menembak sepupunya tepat di wajah.

Ahed tinggal di Nabi Saleh, 20 kilometer di utara Yerusalem dan mengalami pahitnya pendudukan Israel. Aktivitas penduduk setiap saat diawasi. Siapa pun, termasuk anak-anak, bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa alasan jelas.

Dunia marah dan prihatin atas ketidakadilan yang menimpa Ahed. Kampanye #FreeAhed tidak hanya beredar luas secaraonline, melainkan dalam bentuk poster dan grafiti yang terpampang di tempat-tempat umum, seperti London dan Lisbon.
Ahed memberi keberanian dan harapan pada siapa pun, di mana pun, untuk berani membela diri ketika diperlakukan tidak adil.

Pengantar Penerbit
Seorang gadis sekolah Palestina berusia 16 tahun yang secara mendadak dan brutal dikirim ke penjara militer di Israel merupakan kejutan luar biasa bagiku, dan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Belakangan aku menonton klip video singkat—hasil rekaman militer Israel—yang menunjukkan betapa sekelompok tentara Israel gagah perkasa berpakaian tempur lengkap mencengkeram kuat-kuat gadis itu, Ahed Tamimi, memaksanya keluar dari pintu depan rumahnya, menuju kendaraan militer Israel, lalu mendorongnya masuk. Tiga puluh tahun silam, kami melihat polisi rezim apartheid di Afrika Selatan menangkap para militan ANC dengan cara seperti itu. Namun, militan-militan itu adalah kaum lelaki gagah perkasa, dan mereka sering melawan penangkapan itu dengan kekerasan—sehingga memicu penanganan kasar semacam itu.

Namun, ini adalah seorang gadis muda yang seharusnya kamarnya tergeletak sehelai kertas, PR sekolahnya yang sudah selesai. Alih-alih menyerahkan PR kepada gurunya setelah sarapan, dan rutinitas-rutinitas beradab lainnya—dia dipaksa meninggalkan ranjang pada tengah malam. Sebelum dia benar-benar menyadari apa yang terjadi, sebuah pintu baja terbanting menutup di depannya, mengurungnya dalam sel di sebuah penjara militer suram.
Ketika mengetahui hal ini dari berita di Swedia, aku benar-benar terpana. Sebagai ayah dari dua orang putri, aku bisa membayangkan kengerian yang dirasakan gadis itu, di bangunkan oleh tentara-tentara asing yang menerobos masuk ke rumahnya pada tengah malam—dan mereka memburunya. Aku juga merasa prihatin terhadap ayahnya. Aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan; aku menulis pesan untuk lelaki itu, Bassem Tamimi, di halaman Facebooknya, untuk mengungkapkan simpati dan menawarkan solidaritas dalam kampanye pembebasan Ahed.

Aku tahu bahwa gadis itu menampar seorang tentara Israel, tetapi tindakan itu tidak bisa membenarkan penangkap annya. Aku telah melihat videonya, direkam oleh ibu Ahed empat hari sebelumnya, pada 15 Desember 2017. Video itu memperlihatkan dua tentara bersenjata Israel memasuki apa yang kini kuketahui sebagai kebun keluarga Tamimi, juga Ahed dan Nour yang sangat marah dan menyuruh mereka pergi. Tentu saja mereka marah. Baru beberapa menit sebelumnya, seorang tentara Israel menembak sepupu Ahed yang berusia 15 tahun, Mohammad Tamimi, persis di wajah nya dari jarak sebelum dilakukan pembedahan untuk menyelamatkan nyawanya. Dan kini, tentara-tentara yang sama itu memasuki kebun keluarga Tamimi, tanpa alasan jelas.

Klip video itu menunjukkan betapa perselisihan panas dimulai di antara dua tentara dan dua gadis kecil—yang nyaris setinggi bahu kedua lelaki berseragam itu. Tentara-tentara Israel itu menolak pergi. Salah seorang tentara mulai melambai-lambaikan tangannya di depan Ahed dan memukulnya untuk mendorongnya mundur. Ahed bereaksi spontan dan balas menampar, mengenai tentara itu. Apa yang akan dilakukan kedua tentara, seandainya ibu Ahed tidak merekam adegan itu?

Bagaimanapun juga, mereka memang menunjukkan pengendalian diri. Ketika tentara yang satu lagi melanjutkan perdebatan dengan kedua gadis itu, tentara yang menerima tamparan memunggungi kamera dan berubah pasif. Klip video yang menunjukkan Ahed membalas dengan menampar seorang perwakilan Tentara Israel, tanpa langsung dihukum atas tindakannya, menimbulkan luapan kemarahan dalam komu nitas Israel. Sebagian marah karena tentara itu tidak membalas dengan kekerasan, sebagian bahkan berkata bahwa gadis itu seharusnya ditembak. Suara-suara lantang menyerukan pembalasan dendam.

Sama seperti banyak orang lainnya, aku menyadari kebijakan pendudukan Israel dan gencarnya kritik yang dilancarkan terhadap Israel karena pelanggaran hak asasi manusia berulang kali. Negara Israel mungkin telah kehilangan sebagian besar kawannya di dunia gara-gara ini. Namun, menjebloskan gadis sekolah ke penjara, dan untuk pelanggaran sekecil itu. Hari-hari dan minggu-minggu selanjutnya mengajarkan kepadaku betapa naifnya diriku.

Natal berlalu dan Tahun Baru tiba. Perlahan-lahan menjadi jelas bagi dunia bahwa Negara Israel berniat memberi contoh lewat gadis ini. Ahed tidak akan dibebaskan secepat yang dibayangkan olehku dan banyak orang lainnya. Terlebih lagi, ketika menengok Ahed di penjara, ibunya juga ditangkap.

Beberapa kali aku melihat Ahed di YouTube pada tahun-tahun belakangan ini. Dijuluki “gadis kecil pemberani”, tantangan nekat dan beraninya terhadap tentara Israel telah beberapa kali menjadi viral. Yang pertama adalah lima tahun silam, ketika sebuah klip menunjukkan Ahed yang berusia sebelas menangis hebat, memeluk ibunya yang sedang didorong ke dalam kendaraan militer oleh setengah lusin tentara Israel. Itu sangat menyayat hati, sesuatu yang tidak akan kau lupakan. Dan kini, ketika berusia enam belas, dia mendekam di penjara.

Aku merasa harus melakukan sesuatu. Aku berhasil mendapatkan nomor telepon ayahnya dan meneleponnya. Kami bicara selama beberapa menit. Terjalin ikatan istimewa di sini, antara dua ayah. Aku mendengar diriku bertanya kepada Bassem apakah dia setuju jika aku, sebagai penerbit, menerbitkan buku mengenai Ahed. Dunia harus belajar mengenal gadis itu dan, jika buku mengenainya bisa membantunya dalam situasi ini, setidaknya itulah yang bisa kulakukan sebagai penerbit. Di ujung lain telepon, Bassem memberitahuku bahwa Dua hari kemudian, temanku Paul Morris, seorang dosen di Swedia, dengan pengetahuan mendalam mengenai situasi di Palestina, menangani proyek ini dengan sangat antusias dan sepenuh hati. Kemudian Paul mengajak serta koleganya, Paul Heron, seorang pengacara Inggris terkenal yang banyak terlibat dalam masalah hak asasi manusia. Peter Lahti, seorang jurnalis dengan patos sosial yang sama, bergabung; dan ketiganya menciptakan tim yang kuat dan sangat berdedikasi.

Paul Morris dan Paul Heron segera berhubungan hampir setiap hari dengan berbagai anggota keluarga Tamimi. Mereka mulai merencanakan kunjungan ke desa Tamimi di Tepi Barat, Nabi Saleh. Itu memerlukan kunjungan ke Kedutaan Palestina di Stock holm. Di sana kami semua diterima dengan ramah dan diberi beberapa petunjuk yang sangat bagus menyangkut kunjungan mendatang ke Tepi Barat.

Tentu saja kunjungan Paul Morris dan Paul Heron ke Tepi Barat itu sangat menentukan. Sementara Peter berada di rumah, menggarap manuskrip, kedua Paul, dengan pengantar dan dukungan dari Bassem, menemui banyak orang penting dalam perjuangan di Nabi Saleh, merekam, melakukan wawancara, dan mendengarkan. Mereka menceritakan kepadaku betapa gam baran mengenai Ahed berkembang di benak mereka, jam demi jam.

Hubungan penting terjalin dengan bibi Ahed, Manal Tamimi. Percakapan-percakapan panjang dengan Manal memperjelas bahwa kami harus memasukkannya dalam daftar penulis, dan untung sekali dia bersedia bergabung. Kedua Paul menyadari bahwa Manal, ketika menceritakan kisah dan pikirannya kepada mereka, jelas seorang penulis, dan punya bab penting untuk ditambahkan menyangkut perjuangan kaum perempuan untuk kemerdekaan Palestina.

Ketika Paul Morris dan Paul Heron pulang, mereka bisa menceritakan kepadaku kisah sebuah keluarga yang sangat meyakini cara damai untuk meraih kembali kehidupan normal dan layak; mereka menceritakan seorang gadis muda yang hanya ingin hidup seperti gadis lain seusianya, belajar di sekolah, bergaul dengan teman-temannya, pergi berenang di laut di dekat situ, bermain sepak bola—gadis yang dihalangi dari semua itu karena pendudukan brutal; gadis yang ayah dan ibunya berulang kali direnggut darinya untuk dikirim ke penjara, walaupun mereka tak pernah melakukan tindak kekerasan disepanjang hidup mereka, tak pernah melakukan kejahatan sekali pun; gadis yang bibi dan pamannya dibunuh oleh tentara, padahal mereka tidak bersenjata dan tidak memberikan ancaman apa pun; gadis yang difitnah oleh kelompok Israel sayap-kanan dan bahkan menerima ancaman pembunuhan. Gadis yang hanya ingin menjadi seorang gadis, tetapi yang harus melawan.

Karena alasan itulah, kisah Ahed harus diceritakan kepada dunia.

Tujuan buku ini, yang akan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, adalah menceritakan kisah Ahed Tamimi dan konteks kehidupannya, konteks yang sangat sulit dipahami oleh siapa pun yang tidak mengalaminya. Vaktel Books adalah penerbit ini adalah proyek solidaritas. Setengah keuntungan dari buku ini akan disumbangkan ke Dana Pembelaan Hukum Palestina. Ketika Ahed dipenjarakan, dia bergabung dengan ratusan tahanan politik anak-anak lainnya yang dikurung di penjara militer Israel. Perjuangan hukum memerlukan uang, dan semoga buku ini bisa menggalang dana untuk perjuangan itu dan membantu membangkitkan kesadaran, membantu pembentukan kampanye untuk pembebasan mereka dan, sungguh, mengakhiri pendudukan militer Palestina. Dana Pembelaan Hukum Palestina bisa dihubungi lewat www. ahedtamimibook.com.

Eskilstuna, Swedia, 13 April 2018
Christer Bergström, Penerbit Vaktel Books