Istana Kaca

Pengarang: Jeannette Walls
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi

Tebal: 524 halaman

istanakaca

“Kehidupan adalah drama yang penuh tragedi dan komedi,” kata Mom kepadaku. “Kau harus belajar untuk sedikit lebih menikmati episode-episodenya yang menggelikan.”

Bersama tiga saudaranya, Jeannette Walls diasuh oleh orangtua yang idealis, nyentrik, dan tidak mau dikekang oleh peraturan yang mereka anggap konyol. Sikap dan gaya hidup seperti itu menjadi berkah sekaligus kutukan bagi mereka. Awalnya, mereka hidup berpindah-pindah di kota gurun pasir dan di pegunungan. Sang ayah, Rex,  lelaki berkarisma, serbabisa, dan kaya imajinasi. Dia mengajari sendiri anak-anaknya fisika, geologi, dan yang terutama cara menjalani hidup dengan berani dan mandiri. Dia berjanji suatu hari mereka akan tinggal di Istana Kaca. Rose, sang ibu, gemar menulis dan melukis. Dia menyebut dirinya sebagai “pecandu kesenangan”.Saat kehabisan uang dan bayang-bayang tentang indahnya kehidupan memudar, mereka tinggal sementara di kota pertambangan yang suram.

Keluarga itu melakukan segalanya untuk keluar dari keadaan tidak menyenangkan ini. Namun, sang ayah malah terjebak dalam genangan minuman keras. Sang ibu bekerja sebagai pengajar, sementara anak-anak mengumpulkan botol bekas untuk mendapatkan uang jajan.Ketika keadaan benar-benar memburuk, mereka terpaksa mengutil. Hidup dalam keluarga berantakan, Jeannete dan ketiga saudaranya berjuang untuk saling menguatkan saat kedua orangtua mereka saling mengkhianati.Selama dua puluh tahun, dia menyembunyikan latar belakang kehidupannya ini.

Berkat dukungan suaminya, dia mengungkapkan kisahnya yang tidak hanya mengharukan, tetapi juga membangkitkan optimisme.