#2 seri Mary Russell-Sherlock Holmes
Pengarang: Laurie R. King
Penerjemah: Nur Aini
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Qanita – Mizan
Tahun terbit: 2012

Bagaimana mungkin perempuan merupakan gambaran Tuhan, jika perempuan adalah untuk laki-laki dan tidak punya kewenangan, baik untuk mengajar, atau menjadi saksi, atau menjadi hakim, apalagi untuk mengatur atau mengepalai negara?
–Santo Agustinus (354-430)

Satu demi satu aktivis perempuan di Bait Allah meninggal secara misterius. Hampir tak ada satu petunjuk pun, kecuali bahwa Margery Childe, pimpinan organisasi itu, mungkin saja terlibat. Mary Russell mulai melakukan penyelidikan, dengan mempelajari kebaktian demi kebaktian, dokumen demi dokumen, dan Injil demi Injil.

Tapi, di manakah Holmes? Seharusnya gurunya itu membantunya, bukannya berulang-ulang menghilang bagaikan tukang sihir. Masa bodoh, pikir Mary. Mungkin lebih baik seperti ini, karena berada di dekat Holmes membuatnya marah, kesal, dan yang lebih parah, tak bisa mengontrol rasa cintanya yang semakin tumbuh.

Ternyata berjauhan dengan Holmes sama sekali bukan solusi bagus. Penyelidikan di Bait Allah membuat Mary harus menanggung dampak yang besar: dia harus melawan kriminal-kriminal keji seorang diri. Tanpa Holmes, tanpa pelindung, atau siapapun ….