ImageJudul: Prince of Thorns

Penulis: Mark Lawrence

Penerjemah: Linda Boentaram

Penyelaras Aksara: Tendy Yulianes Susanto

Penerbit: Ufuk Press

Bahasa asli: Inggris

Terbit: Juni 2012

Ketika berusia sembilan tahun, dia menyaksikan ibu dan saudaranya terbunuh. Saat menginjak tiga belas tahun, dia adalah pemimpin kelompok jalanan yang haus darah. Pada umurnya yang kelima belas, dia berniat untuk menjadi raja… Sudah waktunya bagi Pangeran Honorous Jorg Ancrath untuk mengambil haknya. Sejak hari itu, dia didorong untuk melampiaskan dendam dan amarahnya. Kehidupan dan kematian tidak lebih dari permainan baginya, tidak ada yang tersisa. Tapi, pengkhianatan menantinya. Pengkhianatan dan sihir gelap. Tidak peduli seberapa sengit, mampukah kehendak kuat seorang pemuda menaklukkan musuh dengan kekuatan-Nya melampaui imajinasi?

Novel ini novel paling sulit yang pernah saya terjemahkan. Selain bahasanya yang ‘cowok banget’ alias singkat-singkat sehingga seringkali harus dibaca dua kali untuk memahami maksudnya, ada pula kalimat-kalimat yang sepertinya tidak punya konteks atau tidak penting, namun ternyata merupakan petunjuk untuk hal-hal yang terjadi selanjutnya. Saya tidak akan kaget jika para pembaca novel ini berkomentar bukunya sulit dibaca atau membuat frustrasi, karena saya pun jumpalitan pada saat menerjemahkannya. Terkadang saya terpaksa menambahkan kata-kata supaya arti kalimat menjadi jelas, tetapi tidak berani terlalu detail supaya gaya penulis aslinya tidak hilang. Belum lagi banyak adegan berdarah yang tidak cocok untuk anak-anak dan remaja serta tokoh utamanya yang sama sekali tidak mengundang simpati. Tetapi jika berhasil membaca sampai selesai dan menarik benang merah dari adegan-adegan yang awalnya tidak masuk akal, buku ini benar-benar bagus. Sebuah kisah tentang bagaimana kebencian dan dendam dapat merusak manusia dan bagaimana mereka bisa mengatasi kedua hal tersebut dengan menggali kasih persaudaraan dan kebaikan apa pun yang masih tersisa di lubuk hati mereka.

Baca Bab 1 & 2 di sini