Pengarang   : Boyd Morrison

Penerjemah: Istiani Prajoko

Penyunting : Wijdan FR

Penyelaras Aksara: NN Ananta

Penerbit       : Imania

Cetakan I     : Juli 2010

Dilara Kenner, seorang arkeolog muda, harus mati-matian menyelamatkan diri setelah temannya dibunuh di hadapannya. Dalam keadaan sekarat, temannya sempat membisikkan kata kunci konspirasi besar untuk menyembunyikan artefak sejarah yang menakjubkan.

Dua hari kemudian, Tyler Locke, seorang mantan insinyur tempur Angkatan Darat, berhasil menyelamatkan awak dan penumpang helikopter yang jatuh di laut dekat anjungan minyak tempatnya bekerja. Dilara termasuk penumpang yang diselamatkannya. Dilara mengaku jatuhnya helikopter tersebut bukan kecelakaan biasa. Seseorang ingin menghentikannya menemukan Bahtera Nabi Nuh.

Percobaan pembunuhan yang ketiga kalinya terhadap Dilara di anjungan tersebut berhasil meyakinkan Locke yang skeptis bahwa ada kebenaran di balik cerita wanita itu. Setelah pesawat jet pribadi seorang bintang film jatuh di gurun Mojave, maka semakin terbukti adanya konspirasi tersebut. Locke dan Dilara berangkat ke Arizona, dan penyelidikan mereka mengungkapkan penemuan yang mengerikan. Sekelompok penganut aliran agama sesat dan fanatik ternyata berhasil merekayasa ulang senjata dari Bahtera yang memungkinkan mereka mencipta ulang efek Air Bah seperti yang dikisahkan dalam Alkitab, serta membentuk umat manusia yang tersisa sesuai dengan visi pemimpin aliran sesat tersebut.

Sekarang Locke dan Dilara hanya memiliki tujuh hari untuk menemukan Bahtera dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya, sebelum dipergunakan untuk membinasakan peradaban manusia.

“Kisah menegangkan dengan ide-ide yang cerdas dan dituangkan dengan sempurna. Novel yang akan membuat Anda menahan napas sampai halaman terakhir ditutup.” — James Rollins, penulis buku laris New York Times, The Last Oracle dan The Doomsday Key.

“Perpaduan sempurna antara mistik sejarah dengan plot ketegangan klasik dan cerdas. Bayangkanlah Bahtera Nabi Nuh yang terkenal itu ditemukan dan diciptakan ulang untuk merekayasa benih konspirasi di dunia modern.” — Jon Land, penulis buku laris The Seven Sins.