The Forgotten Massacre/Persahabatan dan Cinta di Tengah Tragedi G-30-S PKI

Pengarang: Peer Holm Jorgensen

Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penyunting: Indradya SP

Tebal: 442 halaman

“Novel ini mengajak kita membaca Tragedi 1965 melalui kacamata penulis Eropa. Sesuatu yang masih langka.” –Noorca M. Massardi, pengarang/pewarta

Kasper berdiri mematung.

Jadi desas-desus mengenai kebrutalan tak kenal ampun itu benar.

Dia menatap lelaki di hadapannya.

Lelaki itu membalas tatapan Kasper dengan tenang.

“Mereka bersimpati terhadap Komunis,” katanya.

Dia mengangkat bahu dengan menyesal.

“Maaf.” Lelaki yang lain mengangkat tangan ke tenggorokan.

Bukan untuk menyumpah, tapi untuk mengisyaratkan cara memisahkan

kepala dari tubuh dengan mudah.

***

Jakarta, September 1965. Kapal kargo tempat Kasper, seorang pemuda Denmark, bekerja sebagai asisten koki berlabuh di Tanjung Priok. Selama berada di sana, Kasper menjalin persahabatan dengan banyak pelaut dari berbagai bangsa. Dia bahkan terlibat dalam hubungan cinta segitiga dengan seorang gadis blasteran Belanda-Padang. Semuanya tampak normal, sampai Kasper sadar bahwa dia berada pada waktu dan tempat yang salah.

Saat itu adalah salah satu periode kelam dalam sejarah Indonesia. Setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal TNI, Partai Komunis Indonesia (PKI) dituding sebagai dalang kudeta terhadap Presiden Sukarno. Ratusan ribu orang yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI pun ditangkap, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh. Dan Kasper terjebak di tengah tragedi berdarah yang disutradarai oleh CIA itu.

The Forgotten Massacre ditulis berdasarkan pengalaman pribadi seorang Denmark yang secara kebetulan menyaksikan pembantaian berdarah itu. Novel ini mengajak kita memandang tragedi G-30-S PKI dari kacamata orang asing dan dari sisi yang lebih humanis.

”Mungkin kami memang terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa ….”—William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Tenggara periode 1962-67, diucapkan pada 1990

“Novel ini adalah pengalaman pribadi tentang harapan, mimp, dan cinta seorang anak muda, yang percaya bahwa semua orang pada dasarnya baik, sampai terbukti sebaliknya. Peer Holm Jorgensen menulis novel suspense yang tak akan Anda sisihkan sampai Anda selesai membacanya. –Marianne Dyhrberg Cornett, Nordjyske, Denmark.

Iklan