Penulis: Marek Halter

Penerbit: Edelweiss [imprint Pustaka Iiman]

Penerjemah:  Rini Nurul Badariah

“Adakah orang di muka bumi ini yang mengabaikan keberadaan Maria, peletik perubahan spiritual terbesar sejak munculnya monoteisme? Kaum Evangelis telah meringkasnya dalam beberapa ayat yang eliptis dan misterius.”

Selama beberapa tahun menuliskan novel ini dan melukiskan profil “Mariaku”, saya berusaha menggambarkan Maria de Nazareth , yang lahir di Galilea dalam kekisruhan Kerajaan Israel kala menentang penjajahan Roma. Apa hubungan wanita ini dengan perlawanan rakyat dan Barabbas, salah satu pemimpin pemberontakan yang paling popular? Apa kaitan Maria dengan Kaum Essene dari Damas, sekte para penyembuh? Juga dengan sepupu jauhnya, Jean Sang Pembaptis?

Sejak kanak-kanak saya terpikat oleh takdir wanita Yahudi perintis Kristianisme ini. Setelah menelitinya sekian lama, saya dengan senang hati membagi kisah menggairahkan ini dengan Anda. “ Setelah menulis trilogi mengenai tokoh-tokoh Injil, Sarah, Tsippora dan Lilah yang menuai suskes di Prancis dan telah diterjemahkan di 22 negara. Inilah Perawan Suci, novel Marek Halter yang paling menggemparkan, selain La Memoire d’ Abraham.

“Jasa besar sastra keagamaan terletak dalam pengetahuan yang diberikannya tanpa menggurui – sebaliknya bahkan menantang pemikiran, sehingga pengetahuan menjadi penemuan kita sendiri. Tanpa harus kehilangan sesuatu yang akan membuatnya disebut indah, seperti roman ini.”
Seno Gumira Ajidarma, Novelis, Peraih Penghargaan Khatulistiwa Literari Award 2004 dan 2005.

“ Maryam: cantik, cerdas dan asyik. Tapi api sucilah yang membakar hatinya, memuntahkan derap langkah historis yang mustahil.”
Ratih Sang, Model, Pemilik dan pengajar Lembaga Pendidikan Ratih Sang

“Novel ini merekam kehidupan Maria dan putranya, Yesus dari sudut pandang sang Ibu yang feminis. Tapi sang pengarang juga mencangkokkan kisah Maria yang mirip di zaman kebengisan NAZI. Sebuah pengolahan teknik “penggandaan” Borges yang mengasyikkan sekaligus menantang kita untuk mengubah cara membaca tentang dua sosok mahapenting itu.”
Zen Hae, Penulis Sastra.