Penerbit: Qanita

Penerjemah: Sofia Mansoor

Catatan:

Ketika menerjemahkan buku ini, seluruh jiwa saya hanyut terbawa oleh kisah demi kisah yang ditampilkan penulisnya. Segala perasaan bercampur aduk, kadang pilu dan terhenyak, kadang nyaris tak percaya akan hal yang saya baca…

Buku adalah hidup Sultan Khan. Dua puluh tahun lebih, dia melawan pemerintah untuk menyelamatkan bisnisnya itu–tak peduli harus ditangkap, diinterogasi, masuk penjara, atau menyaksikan para serdadu buta huruf membakar unggun buku-bukunya di jalanan Kabul.

Sebanyak buku-buku yang dijualnya, demikian pula ragam kisah keluarga Khan–kisah-kisah yang lucu, pedih, lucu sekaligus pedih. Lamaran kepada calon istri keduanya yang di luar kelayakan, misalnya. Atau, gadis pengemis yang terpaksa menjual kesuciannya kepada seorang penjaga toko buku demi beberapa lembar uang. Atau, tentang rencana pembangunan pusat wisata ski internasional tahun 1967, yang lokasinya kini telah menjadi ladang ranjau: “Nikmatilah Petualangan Ski Penuh Ledakan!”–bagaimana kalau ranjau ditandai dengan pancang slalom?

Sesungguhnyalah, buku ini bukan sekadar potret unik seseorang atau sebuah keluarga. Ia juga potret getir Afghanistan–sebuah negeri yang kini kumuh, padat, dan luluh lantak, namun tetap tak terkalahkan.