Judul Asli: The West’s Weapon of Mass Destruction and Colonialist Foreign

Nama Penulis: Hizbut Tahrir Inggris

Nama Penerjemah: M. Ramdhan Adhi

Nama Penyunting: A. Syaifullah

Nama Penerbit: Pustaka Thariqul Izzah

Bahasa Buku Asli: Inggris

Tahun Terbit: 2003

Tampaknya predikat yang disandang AS sebagai negara kolonialis sekaligus pembohong besar sangatlah tepat. Propaganda-propaganda yang selama ini ia dengungkan sebagai pembenar agresi terhadap Irak terbukti hanyalah lips-service belaka, guna menutupi kebusukan motif kapitalisnya.

Dengan politik luar negeri ala preman ini, AS tidak hanya semakin mengokohkan diri sebagai negara penjajah dan perampas kemandirian negara lain. Namun, juga semakin menambah daftar hitam perjalanan politik luar negerinya, sebut saja kasus invasi AS ke Haiti di pulau Navassa (1891), Hawai (1893), Nikaragua (1894), Samoa (1899), Kuba (1917), Turki (1922), Iran (1953) hingga Afghanistan (2001), Irak (2003), dan mungkin Suriah.

Salah satu propaganda untuk melegalkan invasi AS ke Irak adalah dengan menyatakan bahwa Irak memproduksi dan menyimpan senjata pemusnah massal. Propaganda AS ini didukung pula oleh pemerintah Inggris dengan menerbitkan sebuah dokumen berjudul Senjata Pemusnah Massal 24 September 2002. Meskipun demikian, dokumen ini tidak dapat menyuguhkan fakta otentik. Bahkan hal inilah yang membuat Tony Blair secara skeptis berujar, “Kami tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi selama 4 tahun belakangan ini.” Pengakuan tersebut ternyata tidak membatalkan pemerintah Inggris menerbitkan dossier of evidence (dokumen penuh bukti) ini. Hal itu mengindikasikan bahwa proses penerbitan dokumen ini tidak lebih dari upaya menggalang opini publik guna melegitimasi aksi militer atas Irak.

Kemunculan dokumen ini terang saja membulatkan kesimpulan kalangan Muslim, yaitu bahwa agresi AS atas Irak hakikatnya hanyalah kampanye untuk memperkokoh dan memperkuat hegemoni serta pengaruh barat atas negeri-negeri Islam, termasuk minyak sebagai upaya represif terhadap setiap bentuk kebangkitan Islam ideologi.

Buku ini secara jeli dan akurat memuat analisis atas motif tersembunyi di balik serangan AS ke Irak, dengan mengkaji kepentingan strategis, ekonomi, dan politik barat. Juga sebelumnya dipertegas dengan menyimak historis dunia kontemporer di bawah hegemoni ideologi kapitalisme, dengan memaparkan bagaimana barat menggunakan senjata pemusnah masal (hlm. 1-21), dukungan Barat terhadap sejumlah rezim diktator yang memiliki reputasi buruk di sejumlah negara di seluruh penjuru dunia (hlm. 42), sikap arogan barat yang sama sekali tidak mengindahkan eksistensi PBB dan hukum internasional (hlm. 22).

Buku ini juga memaparkan sejumlah klaim dan sejarah memalukan bagi pemerintahan barat, ideologi kapitalisme, dan pandangan kolonialisnya. Yang cukup menarik dalam buku ini adalah dimuatnya sejumlah file intelijen secara rinci tentang hal ihwal kebijakan luar negeri barat serta dilengkapi analisis dan tafsiran atas file tersebut. Salah satu data intelijen yang dapat dikutip di sini menyatakan, “Selama beberapa dekade, AS berupaya memainkan peranan yang lebih permanen dalam keamanan kawasan Teluk. konflik berkepanjangan dengan Irak membutuhkan pembenaran, kebutuhan akan hadirnya pasukan AS di Teluk melebihi isu rezim Saddam Hussein.” (Rebuilding America’s Defences, Strategies, Forces, and Resources for a New Country).

Eksistensi akan “tatanan dunia” atau hukum internasional yang mengontrol hubungan antarnegara di dunia, telah digunakan AS untuk mengendalikan negara-negara lain di dunia. Hal itu tentu saja mengancam stabilitas internasional dan kedaulatan negara-negara lemah. Hasilnya, peperangan mudah terjadi hanya dipicu oleh persoalan ekonomi. Terlebih lagi, tatanan dunia seperti ini telah memberi kesempatan bagi negara-negara kuat mencampuri “persoalan dalam negeri” negara-negara lemah, tanpa lagi mempertimbangkan etika apresiasi terhadap kedaulatan. Akibatnya, kolonialisme semakin kokoh, arogansi, tirani, dan hegemoni semakin telanjang dipraktikkan oleh negara kuat. Semuanya dilakukan dengan mengatasnamakan hukum internasional dan tatanan dunia. Jurang antara negara kaya dan miskin, utara dan selatan, dunia kesatu dan dunia ketiga, menjadi semakin lebar dan dalam.

Walhasil, publik di dunia, Muslim maupun non-Muslim kini menyaksikan sendiri bahwa AS (serta Inggris) bukanlah berperan sebagai polisi dunia yang akan menjaga kebebasan dan kedamaian (freedom and peace), melainkan sebagai sosok antagonis, yaitu penjaga keserakahan dan kepentingan sendiri dengan dukungan kekuatan militer dan ekonomi. AS semakin kaya di atas penderitaan dan darah bangsa-bangsa lain.

Oleh karena itu, ancaman dari negara-negara kolonialis barat ini sangat serius dan nyata. Upaya mereka mengejar ambisi material di seluruh dunia harus dihentikan.